oleh

CERPEN: Menunggu (Satu Malam di Bibir Kompleks)

Waktu tahun baru Hijriyah dan tahun baru Masehi hanya berjarak dua puluh empat hari; saat usai musim kemarau yang digantikan oleh anomali cuaca akibat pemanasan global menjamah musim pada akhir dan permulaan tahun; dan ketika matahari pucat terhalang oleh mendung di atas kompleks perumahan itu.

KOMPLEKS perumahan yang setiap malam pintu gerbangnya dijejali banci dan pelacur pindahan dari lapangan sebelah danau—di bawah Sutet—yang sekarang sudah berubah menjadi KFC, restoran Itali, café-café mewah, dan supermarket besar. Kota satelit sebelah barat kota metropolitan. Metropolitan yang angkuh dan terus ditumbuhi bangunan beton serta rumah-rumah kaca serta semakin membuat tipis lapisan ozon.

Saya berdiri menunggu seratus meter ke arah masuk, dari bawah pintu gerbang kompleks yang berbentuk gapura megah. Di atas gapura raksasa itu terdapat patung-patung kuda yang kokoh mendongak ke langit—warnanya hijau lumut, dengan guratan-guratan otot yang sekal. Pada dinding dan langit-langit bangunan megah ini, mata saya melihat ratusan sarang burung sriti, menempel.

Burung-burung ini mengingatkan saya kepada nama seseorang beberapa tahun yang lalu; yaitu gadis manis bertubuh ramping, berkulit sawo matang, bersepeda mini warna merah, dan berambut lurus.

Gadis ini suaranya merdu. Pernah, suatu ketika saya mendengarkan ia bernyanyi lagu dangdut, diiringi musik organ tunggal, pada sebuah pesta pernikahan. Suaranya mendayu-dayu, seperti seorang biduan sungguhan. Saya juga melihat ia berjoget, meliuk-liuk seperti seorang artis yang dibayar mahal di stasiun tv. Dari situ pula, banyak orang yang menyarankannya agar mengikuti audisi ajang adu bakat. Namun dirinnya menolak. Ia masih ingin meneruskan kuliah dan mengejar cita-citanya menjadi guru. Alasan lain, ia tidak tertarik untuk menjadi seorang bintang atau selebriti.

“Takut! Ya, takut terjerumus dan berkubang dalam dunia kepalsuan. Takut menjadi tukang mengumbar sensasi. Pasti banyak boongnya. Aduh..duh, enggak dech,” katanya.

Saya masih belum bergeser dari tempat saya berdiri—menunggu seseorang yang sudah berjanji sejak jauh-jauh hari akan bertemu di tempat ini. Beberapa tukang ojek menghampiri, menawarkan jasa. Saya menolak, sebab sudah ada yang berjanji akan menjemput. Lagi pula, jika saya menerima tawaran para tukang ojek ini, bisa-bisa malah nyasar. Apa lagi saya belum tahu persis tempat yang akan saya tuju.

Selain itu, sebelum seluler low batrry beberapa menit lalu, saya juga sudah terlanjur bersepakat tidak mengubah pikiran, tetap sesuai perjanjian sebelumnya—menunggu seratus meter masuk ke bibir kompleks.

“Cericit!” Sriti melayang-layang, menukik tajam hampir menyambar kepala saya, lalu melesat ke atas dan perputar-putar lincah di bawah langit yang redup. Saya takjub. Teringat juga ketika saya masih kecil dulu. Saat itu saya diajak berliburan oleh orang tua saya ke Lasem—Kota Tiongkok Kecil, di wilayah Pantura—sebelah timur Jawa Tengah yang hampir berbatasan dengan Jawa Timur. Mayoritas penduduknya kaum mata sipit—Tiong Hoa—namun religius muslim masyarakatnya masih sangat kental. Ya, harmonis.

Di tempat itu banyak sekali terdapat burung-burung sejenis ini. Persis, hampir sama dengan sriti-sriti yang saya lihat. Burung-burung itu bersarang pada bangunan-bangunan tua.

“Burung-burung ini sarangnya terbuat dari air liurnya sendiri. Liur-liur yang telah manjadi sarang itu bisa dijual dengan harga yang sangat mahal,” kata bapak waktu itu.

Bapak menyebutnya wallet. Perbedaannya, sriti bentuknya lebih besar, dan pada bagian dadanya tidak berwarna putih, melainkan kecoklatan.

Namun, apapun namanya pada waktu itu, saya ingin tetap seperti burung-burung ini, bisa terbang dan melayang-layang di udara. Saya akan mengelilingi jagat dengan sayap-sayap hitam yang lincah.

*

Meskipun sudah  hampir satu jam saya berdiri seperti patung, orang yang berjanji akan menjeput belum juga datang. Puluhan tukang ojek yang merubung saya sejak tadi masih terus silih berganti menawarkan jasanya. Puluhan mobil angkutan umum yang masuk ke dalam kompleks dan lewat di depan saya juga tak sudah-sudah menawarkan dan mengajak. Tetapi saya masih tetap setia dalam pendirian, menunggu orang yang akan menjemput saya.

Sungguh, pekerjaan yang sangat menjenuhkan. Mungkin saja, jika saya tak lupa men-carger batrry seluller, semua tidak akan seperti ini. Paling tidak saya bisa mengambil langkah-langkah jika orang yang menjemput kendaraannya mogok, atau sedang ada sesuatu di luar rencana yang sudah disepakati.

Terlintas juga dalam pikiran saya untuk beranjak mencari wartel atau telepon umum di sekitar tempat ini. Tetapi, bagaimana jika sudah susah payah mencari tetapi tidak ada juga, atau sedang rusak—dan tiba-tiba orang yang akan menjemput datang dan melihat saya tak ada di tempat yang sudah dijanjikan? Sudah pasti semua akan menjadi lebih rumit dari apa yang sudah direncanakan sebelumnya.

Saya masih di tempat yang sama, seratus meter ke dalam dari pintu gerbang kompleks. Sampai hari yang redup itu menjamah ke bibir malam; sampai cericit sriti itu sudah tak nampak lagi dalam penglihatan saya; dan sampai para banci dan pelacur satu persatu menggelar aksi di tempat itu—tetapi masih belum ada juga orang  yang datang menjemput.

Langit semakin hitam. Rembulan tak nampak, apalagi bintang—semua hilang tertutup awan yang sejak sore memayungi bumi tempat saya berdiri. Hanya lampu-lampu pinggiran jalan yang berpencar, berpijar tak menjangkau semua malam. Ke mana orang yang akan menjemput saya? Padahal saya sudah berjanji, bahwa sebelum Asar saya sudah berada di bibir kompleks.

Saya mencoba menepiskan prasangka buruk, tetap dalam pendirian, menunggu sampai orang itu datang menjemput.

Langit semakin kelam, dan tubuh saya mulai terlihat samar, tak terjangkau lampu jalanan. Saya bergeser ke bawah bangunan tinggi yang menjulang ke langit. Saya duduk dan bertengger di kaki gerbang, bersebelahan dengan tukang kopi. Sengaja saya duduk di tempat ini, agar mata saya bisa tetap mengawasi jika tiba-tiba orang yang menjemput saya datang—tubuh saya juga bisa nampak terlihat oleh jangkauan lampu malam.

“Pluk..!” Tiba-tiba, sebuah benda kecil jatuh tepat di lengan sebelah kiri saya. Benda itu membekaskan basah dan berasa hangat. Tadinya, saya pikir, air dari tukang kopi di sebelah saya yang muncrat. Ternyata bukan, melainkan kotoran dari pantat sriti, dari atas tempat saya berdiri. Saya pun bergeser kurang dari satu meter, dengan maksud menghindari serangan-serangan berikutnya.

Tetapi, “Pluk..!” Untuk ke dua kalinya. Saya pun langsung menyimpulkan, benda itu pasti dari tempat dan bentuk yang sama. Tahi sriti itu jatuh pada lengan sebelah kiri, tak jauh dari tempat sebelumnya. Kembali saya bergeser. Kali ini lebih jauh lagi dari posisi sebelumnya.

Dan, “Pluk..! Pluk..! Pluk..!” Benda-benda itu malah semakin hebat menyerang bagian tubuh saya. Mula-mula hanya di lengan sebelah kiri, sekarang pindah di lengan sebelah kanan, di pundak, punggung, bahkan di rambut kepala saya. Terang saja, rambut serta kaos oblong warna hitam yang saya kenakan mulai penuh dihiasi bercak-bercak keputihan bekas tahi-tahi sriti. Saya semakin tak nyaman—sebagian tubuh sudah hampir penuh dengan kotoran tahi-tahi sriti.

Orang yang saya tunggu-tunggu dan berjanji akan menjemput tak juga datang. Saya mulai kesal. Dalam hati mulai mengumpat. Saya juga mulai ragu, apakah orang itu akan jadi menjemput saya atau tidak?

Seorang banci dengan dandan menor berjalan melintas di depan saya. Bedaknya putih, tebal, gelepotan seperti ulat pisang. Bibirnya merah. Mirip pemain kuda lumping yang kesurupan, makan ayam hidup-hidup, gelepotan darah. Pakaiannya serba mencolok, androk satu jengkal dari atas lutut. Sepatunya hak tinggi, jalannya melenggok, bagai pragawati di atas cat work—genit mencari perhatian. Ehem, persis seperti biduan panggung

”Aduh..aduh cantiknya,” goda salah seorang tukang ojek.

”Aih si abang bisa aja, eke jadi tersanjung nich,” jawab banci kemayu.

”Iya, cantik. Sayangnya banci!!” Seorang tukang ojek yang lain menyahut, setengah mengejek.

Reaksi banci itu marah. Rautnya ditekuk, lalu, pasang muka mendongok ke tukang ojek. Dengan cepat pula tukang ojek itu langsung menstarter sepeda motornya, tancap gas meninggalkan tempat ini. Disusul lemparan sepatu jinjit dari tangan banci yang membabibuta, semua tukang ojek berhamburan tungganglanggan.

Saya masih duduk di tempat yang sama. Sebentar geser ke kiri, sebentar geser ke kanan, menghindari serangan tahi-tahi sriti dari atas.

Dari jauh, seorang perempuan dengan dandanan seksi memanggil-manggil. Perempuan itu melambaikan tangan.

”Mas, kamari dong?”

Saya tak bereaksi, tak pula Ge-Er dibuatnya. Karena, saya sendiri tak begitu kenal dengan perempuan itu.

”Mas, kencan yuk?” Ajaknya, ”Penglaris, yuk” imbuhnya lagi sambal menunjukkan ibu jari yang dijepit diantara telunjuk dann jari tengah.

Saya jadi bingung. Bergidik. Tak tahu, apa yang harus saya lakukan?

Tiba-tiba, “Pluk!” Saya melihat benda kecil dari pantat sriti di atas itu jatuh tepat pada hidung perempuan ini. Disusul untuk yang ke dua, ke tiga dan seterusnya.

“Pluk! Pluk! Pluk!” Di kepala, punggung, pundak dan sekitarnya. Perempuan itu kaget, latah dengan suara jorok. Ketika wajahnya mendongak ke atas, tiba-tiba,”Pluk!” Tahi sriti itu jatuh lagi. Kali ini tepat pada matanya.

Saat itulah, ketika perempuan pelacur jalanan itu lengah, saya cepat-cepat bergeser dari tempat ini. Seketika itu pula, saya lengsung membuat keputusan, tak lagi menunggu orang yang telah berjanji menjemput saya sejak tadi siang. Saya meninggalkan tempat itu dengan sekujur tubuh gelepotan bercak tahi-tahi sriti dari atas gapura megah yang di atasnya patung kuda mendongak ke langit. Niat melihat pesta tahun baru yang hanya kurang satu hari lagi di kompleks perumahan itu pun, gagal. (*

Oleh: Widi Hatmoko

Seniman dan Jurnalis | Bergiat di Dewan Kesenian Tangerang dan Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE