oleh

Masih Tersisa, Perajin Tampah di Legok Berharap Seperti Ini

TANGERANG – Pada era 80-an, Kabupaten Tangerang dikenal dengan hasil kerajinan topi bambu. Namun seiring perjalanan waktu, topi bambu yang juga menjadi salah satu simbol dalam logo Kabupaten Tangerang ini, perlahan-lahan mulai tenggelam.

Selain topi bambu, sebagai daerah yang dulunya juga dikenal banyak menghasilkan bambu ini, juga dikenal dengan kerajinan anyam lainnya. Diantaranya adalah tampah. Tampah atau sebagian masyarakat menyebutnya dengan tampi, penampi, atau nyiru tersebut adalah alat yang terbuat dari anyaman belahan batang pohon bambu yang dibelah. Pada umumnya tampah berbentuk bundar seperti piring dengan diameter kira-kira sepanjang 65–80 cm (26–31 in).

Biasanya tampah digunakan untuk menampi beras yaitu membersihkan beras dari kotoran-kotoran sebelum dicuci dan dimasak dengan cara diayak secara manual tangan, kemudian kotoran akan otomatis tersisih. Selain untuk menampi beras, tampah juga berguna untuk menaruh jajanan kudapan yang biasa disebut kue tampah. Tampah juga digunakan sebagai tempat alas untuk tumpeng. Manfaat lain tampah adalah bisa untuk menjemur kerupuk kerak atau gendar.

Nah, bicara soal tampah, di wilayah Kabupaten Tangerang hanya tinggal beberapa orang yang menggeluti kerajinan ini. Hal ini dikarenakan, selain kebun bambu di daerah yang saat ini berjuluk Kota Seribu Pabrik ini sudah mulai langka, peralatan tradisional yang satu ini mulai tergantikan oleh peralatan yang terbuat dari plastik.

Salah seorang perajin tampah yang hingga saat ini masih eksis adalah Pak Oma, warga Desa Kemuning, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Di sela-sela kegiatannya membantu bersih-bersih di Sanggar Seni Kemuning, Pak Oma membuat tampah sebagai mata pencahariannya.

“Satiap hari begini (membuat tampah-red), sambil bantu-bantu bersih-bersih di sini (Sanggar Seni Kemuning-red),” ujar Pak Oma beberapa waktu lalu.

Pak Oma mengaku, tambah hasil karyanya itu dijual ke Pasar Legok dengan harga rata-rata Rp20 ribu/buah.

“Lumayan aja buat bantu-bantu biaya anak sekolah di pesantren,” katanya.

Menurutnya, tantanga saat ini yang dihadapi dalam membuat tampah ini adalah sulit mendapatkan bahan baku. Karena pohon-pohon bambu yang dulu mudah di temukan hampir di setiap tempat dan pekarangan, sekarang sudah mulai langka. Lahan bembu sudah banyak yang berubah menjadi pabrik serta kawasan perumahan. Sehingga, jika ingin mendapatkan kuwalitas bambu yang bagus untuk membuat tampah ini, harus memilih-milih bambu di beberapa tempat yang memiliki kuwalitas standar untuk dianyam.

“Karena tidak semua bambu bisa dianyam, kalau pun bisa kuwalitasnya berbeda,” ungkapnya.

Pak Oman berharap, masyarakat untuk tidak meninggalkan peralatan tampah dengan anyaman bambu ini. Karena selain bisa menjadi penopang perekonomian para perajin tampah dari bambu yang masih tersisa.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE