oleh

Sengketa Budaya, Ananta Minta Pemerintah Tegas Pada Malaysia Soal Reog Ponorogo

JAKARTA – Anggota DPR RI Ananta Wahana meminta agar pemerintah lebih tegas lagi kepada Malaysia soal klaimnya terhadap Reog Ponorogo.

Ananta menyampaikan hal itu lantaran Malaysia kemabali bikin gaduh dengan ikut-ikutan mengklaim bahwa Reog Ponorogo merupakan budaya miliknya.

“Reog Ponorogo adalah kesenian adiluhung bangsa kita. Warisan budaya leluhur yang harus kita jaga martabatnya. Jangan sampai malah jadi milik Malaysia,” ungkap politisi Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan itu, dalam keterangan tertulis, Jakarta, Minggu (10/4/2022).

Malaysia sendiri ‘ngotot’ mengajukan klaim Reog Ponorogo ke UNESCO sebagai warisan budayanya karena merasa kesenian Reog sudah ada sejak lama di negaranya.

Tepatnya sejak sekitar tahun 1722 di Johor dan Selangor dengan nama Tari Barongan yang dibawa orang Jawa yang berasal dari Ponorogo ketika merantau lalu.
Harus Menjadi Prioritas
Oleh karena itu, Ananta juga meminta pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) agar dalam ajuan klaim Reog Ponorogo menjadi prioritas sebagai warisan budaya tak benda atau Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO 2023.

“Kemendikbud Ristek harus lebih ngotot lagi. Dan Reog Ponorogo harus menjadi prioritas dan kandidat tunggal dalam ICH UNESCO 2023. Jangan sampai kalah sama Malaysia,” ujarnya.

Seharusnya, kata Ananta, sedari dulu pemerintah sudah mengajukan klaim kesenian Reog itu ke UNESCO sebagai milik budaya bangsa Indonesia.
Dan ini menjadi pelajaran agar pemerintah segera melakukan inventarisir terhadap warisan budaya luhur di berbagai daerah.

“Jangan sampai juga, jamu, temped an lainnya nanti diklaim negara lain. Semua budaya karya leluhur kita harus dipertahankan menjadi milik kita,” katanya.

Penggiat Budaya
Ananta Wahana selain sebagai wakil rakyat di Senayan dari Dapil Banten III Tangerang Raya, juga sebagai inisiator Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis di Kabupaten Tangerang, Banten.
Di Padepokan itu, Ananta kerap mengadakan pagelaran budaya Seni Reog Ponorogo selain kesenian lainnya.

Sebetulnya dalam kondisi pandemik yang sudah memasuki tahun ketiga, Ananta merasa turut prihatin lantaran para penggiat budaya turus terkena imbasnya.

“Pandemi kan sudah bikin susah semua sektor kehidupan. Termasuk para seniman penggiat budaya. Mereka jarang tampil lantaran berbagai aturan pembatasan COVID-19. Ini tentu memukul kehidupan ekonomi mereka,” ucapnya.

Karena itu, sebagai wujud penghargaan dan menjaga martabat budaya luhur bangsa.

“Sekali lagi, pemerintah harus lebih tegas dalam mempertahankan Reog Ponorogo sebagai warisan budaya bangsa kita,” imbuhnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE