oleh

Summarecon Beberkan Fakta Soal Pengosongan Rumah di Cluster Maxwell

TANGERANG – Terkait adanya aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh salah satu kelompok wartawan soal pengosongan rumah di Cluster Maxwell, Summarecon Serpong atas nama konsumen ADW beberapa waktu lalu, pihak Summarecon angkat bicara.

Cut Meutia selaku GM Corporate Communications PT. Summarecon Agung Tbk, menyebut, pengosongan rumah tersebut akibat adanya wanprestasi/gagal bayar dari konsumen tersebut.

Cut Neutia juga menjelaskan, terkait orasi dan spanduk-spanduk yang dibawa maupun pemberitaan di media yang sifatnya menyudutkan pihak Summarecon Serpong yang di dalam proses pengosongan tersebut seolah-olah telah menggunakan preman untuk melakukan pengeroyokan, penculikan dan perampokan atas barang-barang milik ADW dan keluarganya, itu tidak benar.

“Maka untuk menghindari kesan yang keliru bagi masyarakat, dengan ini kami memberikan klarifikasi atas apa yang disampaikan FWJ dalam aksi unjuk rasa tersebut adalah tidak benar sama sekali. Sangat didramatisir dan merupakan upaya menyebarkan berita kebohongan (HOAX) untuk mendiskreditkan kami, bahkan juga pihak kepolisian,” ujar Cut Meutia, Selasa 17 Mei 2022.

Cut Meitia juga mengklarifikasi, fakta yang terjadi di lapangan pada tanggal 20 April 2022 lalu.

“Kami dari pihak Summarecon Serpong melakukan pengosongan di Cluster Maxwell karena penghuni/konsumen ADW, telah melakukan wanprestasi, tidak menyelesaikan kewajibannya yang sudah ditetapkan dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli Tanah dan Bangunan (PPJB) yang telah disepakati sejak tahun 2019, dan kepada ADW sudah berulangkali diperingati agar memenuhi kewajiban untuk membayar angsuran pembayarannya, namun sama sekali tidak ditanggapi oleh ADW,” bebernya.

Beredarnya informasi dan pemberitaan bahwa adanya preman dari Summarecon Serpong dalam tindakan pengosongan tersebut, menurutnya, adalah sama sekali tidak benar.

“Tindakan pengosongan yang dilakukan telah mengikuti prosedur, dan dilakukan oleh karyawan kami, Bagian Litigasi dan Bagian Keamanan serta dihadiri oleh pihak kepolisian,” tandasnya.

Menurutnya, sebelum tindakan pengosongan dimulai, ADW berdiri di depan pintu rumah sambil memegang senjata tajam/golok, sambil mengatakan kalau dilakukan pengosongan ia akan bunuh diri dan dengan golok itu.

“Dia sempat melukai lengan kirinya sendiri dan darah berceceran di lantai, lalu kembali golok dia tempelkan di lehernya dan juga mengacung-ngacungkan goloknya. Jadi luka-luka yang dialaminya dan darah yang tercecer di lantai adalah akibat dari ulah perbuatannya sendiri,” ungkapnya.

“Atas dasar naluri keamanan dan demi keselamatan, yang dikhawatirkan juga membahayakan orang lain, maka petugas Bagian Keamanan kami melakukan pencegahan terhadap tindakan ADW tersebut dan mengamankan goloknya, kemudian membawa ADW ke pihak Polsek Pagedangan, dan menyerahkan golok milik ADW untuk ditindak lanjuti,” lanjut Cut Meutia melanjutkan.

Dikatakan pula, dalam proses pengosongan rumah, pihak Summarecon telah menyediakan gudang dan transportasi untuk pemindahan barang-barang milik yang bersangkutan ke tempat yang aman. Proses inipun dilihat oleh pihak kepolisian dan disaksikan oleh pihak keluarga, yaitu istri dan anak dari ADW.

“Surat pemberitahuan lokasi penyimpanan barang-barang juga telah diberitahukan kepada pihak keluarga ADW, sehingga tidak benar bahwa pernyataan yang disampaikan pihak FWJ bahwa Summarecon Serpong melakukan pencurian barang-barang milik yang bersangkutan,” tukasnya.

Lebih lanjut Cut Meutia menegaskan, dalam aksi unjuk rasa kelompok wartawan ini juga menyebutkan adanya para pelaku dari pihak Summarecon yang dibebaskan dari tuduhan tindakan pengeroyokan.

“Perlu kami tegaskan bahwa, pihak Summarecon tidak pernah melakukan tindakan pengeroyokan, melainkan hanya melakukan tindakan pengamanan ketika ADW mengancam dengan golok/senjata tajam akan membunuh diri dan mengacung-ngacungkan goloknya. Pihak Summarecon sesuai prosedur telah mengikuti pemeriksaan di Polsek Pagedangan, Tangerang atas kejadian tersebut. Oleh sebab itu tidak dapat dibenarkan adanya tuntutan dari pihak FWJ kepada Kapolri untuk mencopot Kapolres Tangsel beserta jajarannya karena membebaskan pihak Summarecon yang dituduh melakukan pengeroyokan. Kami memberikan kepercayaan penuh kepada pihak Kepolisian sebagai Lembaga penegak hukum, yang senantiasa menjalankan tugasnya dengan baik dan professional di negara kita,” pungkasnya.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE