oleh

Wangsa Bonokeling, Komunitas Adat di Tengah Hirup-pikuk Kehidupan Moderen

LENSAPENA – Wangsa Bonokeling adalah salah satu komunitas masyarakat adat yang masih menjunjung ajaran Jawa Kuno dan mengacu kepada sosok Kiyai Bonokeling. Kelompok masyarakat adat ini bermukim di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilwang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Kiyai Sumitro adalah keturunan ke-14, yang saat ini memegang tongkat sebagai Ketua Komunitas Adat Bonokeling. Saat ditemui lensapena.id pasca perayaan Idul Fitri baru-baru ini mengungkapkan bahwa sampai saat ini kelompok masyarakat tersebut masih melaksanakan apa yang pernah diajarkan oleh Bonokeling. Diantaranya adalah melaksanakan lima pedoman hidup yang diajarkan Kiyai Bonokeling, yaitu: japa (doa), srana (usaha), ilmu (pengetahuan), laku (prilaku atau tindak-tanduk), dan tapa (menahan haw nafsu dunia).

Selain itu, kata Kiyai Sumitro, komunitas ini adalah penganut Islam Aboge. Islam Aboge atau Alif-Rebo-Wage (A-bo-ge) adalah aliran yang diajarkan Raden Rasid Sayid Kuning. Yang unik dari alisan Islam Aboge ini, memiliki penghitungan kalender yang berbeda dengan kalender Hijriyah pada umumnya. Perhitungan yang dipakai aliran Aboge ini telah digunakan oleh para wali sejak abad ke-14 dan disebarluaskan oleh ulama Raden Rasid Sayid Kuning dari Pajang.

Banner IDwebhost

Komentar

NEWS UPDATE